Bantul (MTsN 4 Bantul) — Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti kegiatan Syawalan dan Halal bi Halal keluarga besar MTsN 4 Bantul yang digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026 di RM Ingkung Kuali 4, Kalak Ijo, Guwosari, Pajangan. Mengusung tema “Sucikan Hati, Eratkan Ukhuwah, Kuatkan Kebersamaan”, acara ini menjadi momentum mempererat silaturahmi usai bulan suci Ramadhan.
Kegiatan diawali dengan muqoddaman, pembacaan Al-Qur’an 30 juz yang dipandu oleh Muhammad Fathurrahman. Lantunan ayat suci yang menggema menghadirkan nuansa khidmat sekaligus menjadi pembuka yang menyejukkan hati seluruh peserta.
Selaku tuan rumah, Heri Kusdarmanto yang mewakili Siti Chomsa Kurniawati menyampaikan ucapan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran seluruh tamu undangan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyediaan tempat dan fasilitas terdapat kekurangan. Dalam kesempatan tersebut, Heri sekaligus memohon doa restu agar dalam melaksanakan ibadah haji tahun ini, diberi keselamatan, kelancaran, kemudahan, serta kembali ke tanah air dengan predikat haji mabrur.
Sambutan Kepala Madrasah menekankan pentingnya menjaga kedisiplinan dan ketertiban setelah melewati masa libur Ramadhan. Ia mengajak seluruh keluarga besar madrasah untuk kembali meningkatkan etos kerja dan komitmen dalam menjalankan tugas masing-masing.
Prosesi ikrar syawalan dipandu oleh Kaharja selaku Wakil Kepala Bidang Humas. Dengan penuh kekhusyukan, seluruh peserta saling memaafkan, memperkuat nilai ukhuwah Islamiyah yang menjadi inti dari tradisi Syawalan.
Memasuki sesi inti, kajian disampaikan oleh Ustadz Suwardiman Anwarul Huda. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah, yang tercermin dalam ungkapan “Alhamdulillah tanpa embel-embel”. Ia juga mengajak untuk menjauhi kebiasaan ngrasani (membicarakan keburukan orang lain), yang dapat merusak persaudaraan.
Menariknya, Ustadz Suwardiman mengulas makna filosofis tradisi Jawa yang sarat nilai spiritual, sebagaimana dijelaskan dalam pemikiran Ki Bagus Hadikusumo. Ia mengupas simbol-simbol dalam tembang dan hidangan khas Lebaran seperti Sluku-sluku Bathok, Ilir-ilir, hingga kupat dan lontong opor.
Menurutnya, kupat mengandung makna laku papat, luber, lebar, lebur, dan labur, yang merepresentasikan ajakan untuk melapangkan hati, melebur dosa, serta saling memaafkan. Hidangan opor dengan lauk krecek (kulit) dan ati (hati) melambangkan pentingnya membersihkan lahir dan batin, sementara kerupuk dimaknai sebagai simbol kerukunan yang harus terus “diipuk-ipuk” atau dijaga.
Lebih lanjut, ia menekankan nilai-nilai utama seperti taqwa, qanaah, dan wara’ sebagai karakter seorang muslim yang tangguh. Setelah menjalani ibadah Ramadhan, manusia diharapkan kembali kepada fitrah, layaknya kertas putih yang siap diisi dengan amal kebaikan.
“Amalan Ramadhan jangan berhenti,” pesannya. Shalat tarawih dapat dilanjutkan dengan qiyamul lail, infaq dan sedekah tetap dijaga, tadarus Al-Qur’an terus dilestarikan, serta doa, muhasabah, dan i’tikaf tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kajian ditutup dengan lantunan tembang Dandanggula yang dibawakan langsung oleh Ustadz Suwardiman, diakhiri dengan doa bersama untuk keberkahan dan kemajuan keluarga besar MTsN 4 Bantul.
Kegiatan Syawalan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum refleksi untuk menjaga semangat ibadah dan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.