SIP (Sistem Informai Pelayanan) MANTUL

Melihat Anak Berkalung Sarung, Saya Tiba-Tiba Rindu Masa Kecil yang Tidak Bisa Kembali
Melihat Anak Berkalung Sarung, Saya Tiba-Tiba Rindu Masa Kecil yang Tidak Bisa Kembali
Diterbitkan : Fri, 13 March 2026
Penulis : admin1
file-00000000a1107206935109a0cc5d33c4-699c328bc925c42a6f1d65e3-1

Tiga hari terakhir saya berangkat kerja dengan perasaan yang berbeda. Bukan karena pekerjaan yang bertambah, bukan pula karena cuaca yang berubah. Sekolah terasa sepi. Murid-murid sedang libur, dan lorong-lorong yang biasanya riuh kini sunyi.

Dalam kesunyian itu, tiba-tiba saya teringat masa kecil. Masa ketika Ramadan berarti libur sebulan penuh. Sebulan yang terasa panjang, lapang, dan entah mengapa begitu membekas.

Dulu, Ramadan bukan sekadar pergantian kalender. Ia seperti ruang waktu yang benar-benar berbeda. Ritmenya melambat. Hari-hari terasa lebih tenang. Tidak ada jadwal yang menumpuk, tidak ada notifikasi yang bersahutan, tidak ada distraksi yang datang bertubi-tubi.

Pagi tadi, dalam perjalanan, saya melihat beberapa anak berjalan santai di pinggir jalan. Ada yang masih berkalung sarung. Ada yang duduk berjejer di teras rumah, mengobrol ringan. Saya memperhatikan satu hal sederhana: tidak ada gawai di tangan mereka.

Pemandangan itu seperti potongan kecil masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali.

Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, Ramadan berarti libur total dari sekolah. Namun anehnya, kami tidak merasa kehilangan aktivitas. Justru sebaliknya. Hari-hari terasa penuh dengan cara yang sederhana.

Kami memiliki buku pantauan Ramadan. Buku kecil yang harus diisi setiap hari. Kami mencatat judul ceramah, nama ustaz, ringkasan isi ceramah, dan ibadah yang dilakukan. Menulisnya dengan sungguh-sungguh, bukan karena takut pada guru, tetapi karena merasa sedang menjalani sesuatu yang istimewa.

Malam hari, kami salat tarawih bersama teman-teman. Tidak terpaku pada satu masjid. Kami berpindah-pindah, seolah setiap masjid menyimpan cerita sendiri. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh alami. Tidak dirancang. Tidak diprogram.

Sepulang tarawih, kami sering memilih jalan pulang yang berbeda. Bukan karena tersesat, melainkan karena ingin menikmati suasana malam Ramadan lebih lama. Lampu-lampu rumah yang temaram, suara percakapan dari kejauhan, dan udara yang terasa lebih sejuk.

Setelah salat subuh, kami tidak langsung kembali tidur. Kami berjalan berkeliling kampung. Menyapa tetangga. Menghirup udara pagi. Tidak ada target. Tidak ada tuntutan. Hanya kebersamaan dan rasa tenang.

Kini, semua itu terasa seperti cerita dari masa yang jauh.

Ramadan hari ini tetap indah. Masjid tetap ramai. Kegiatan keagamaan tetap berjalan. Namun ritmenya terasa berbeda. Lebih cepat. Lebih padat. Waktu seperti melesat tanpa memberi kesempatan untuk benar-benar dinikmati.

Anak-anak hari ini hidup di dunia yang sangat terhubung. Informasi datang tanpa jeda. Hiburan tersedia tanpa batas. Mereka mungkin lebih cakap secara teknologi, tetapi belum tentu memiliki ruang hening yang cukup untuk mengendapkan makna.

Inilah yang membuat saya bertanya-tanya: apakah Ramadan masih menjadi ruang pendidikan karakter yang alami seperti dulu?

Dahulu, tanpa sadar kami belajar disiplin dari bangun sahur, belajar tanggung jawab dari mencatat kegiatan ibadah, belajar kebersamaan dari berjalan ke masjid bersama teman-teman. Semua terjadi tanpa istilah program karakter, tanpa modul, tanpa indikator capaian.

Karakter tumbuh dari suasana.

Hari ini, pendidikan semakin sistematis. Kurikulum disusun rapi. Target pembelajaran jelas. Kompetensi terukur. Namun di tengah semua itu, ruang sunyi justru semakin sempit.

Padahal, nilai-nilai tidak selalu tumbuh dari ceramah panjang atau aturan yang ketat. Ia sering lahir dari pengalaman yang dihayati. Dari momen-momen sederhana yang memberi kesempatan bagi anak untuk merasakan, bukan sekadar menjalankan.

Ramadan dulu mungkin terasa sepi. Namun justru dalam kesunyian itulah hati belajar berbicara. Dalam kelambatan itulah makna tumbuh pelan-pelan.

Sekarang, Ramadan sering kali terasa singkat. Awalnya penuh semangat, akhirnya penuh harap. Di tengahnya, waktu berlalu cepat tanpa banyak jeda.

Mungkin kita tidak bisa memutar waktu. Kita juga tidak bisa mengembalikan dunia pada kondisi yang sama seperti dahulu. Namun setidaknya kita bisa bertanya: sudahkah kita memberi anak-anak ruang untuk merasakan Ramadan, bukan hanya melewatinya?

Karena bisa jadi, yang paling mereka butuhkan bukan tambahan aktivitas, melainkan kesempatan untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen.

Ramadan akan terus datang setiap tahun.
Tetapi ketenangan, kebersamaan, dan ruang hening itu—belum tentu selalu kita sediakan.

Dan mungkin, di situlah letak kerinduan yang diam-diam masih tinggal. (mw)

Berita

Artikel Lainnya

Rakor PIP MTsN 4...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:56
MTsN 4 Bantul Gelar...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:53
MTsN 4 Bantul Gelar...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:49
Kepala MTsN 4 Bantul...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:45