uatu pagi di sebuah sekolah, seorang guru bahasa Indonesia terdiam sejenak saat memeriksa sampul buku hasil belajar siswa. Bukan karena nilainya, melainkan karena satu kata yang hampir selalu muncul: rapot. Ironisnya, kata itu bukan ditulis oleh siswa, melainkan tercetak rapi pada sampul resmi sekolah. Di ruang pendidikan yang seharusnya menjadi benteng terakhir bahasa baku, kesalahan ejaan justru hadir secara legal dan berulang—seolah sah, seolah benar.
Kita tahu yang benar, tapi tetap menulis yang salah
Mari mulai dengan pengakuan jujur.
Berapa kali Anda menulis praktek, rapot, atau nasehat, padahal tahu (atau setidaknya pernah dengar) bahwa itu tidak baku?
Tenang, Anda tidak sendirian.
Justru di situlah masalahnya: kesalahan ini dilakukan secara massal, berulang, dan terasa wajar.
Ketika yang Salah Justru Terlihat “Paling Benar”
Di media sosial, pernah viral unggahan foto papan pengumuman sekolah bertuliskan:
“Jadwal Praktek Asesmen Kelas IX”
Kolom komentarnya ramai. Bukan soal jadwalnya, tapi soal ejaannya. Ada yang mengoreksi, ada yang membela, dan tak sedikit yang berkata,
“Ah, yang penting paham.”
Kalimat pamungkas itu—yang penting paham—adalah alasan paling populer sekaligus paling berbahaya dalam urusan bahasa.
Karena faktanya, bahasa tulis bukan sekadar soal paham, tapi soal keteladanan.
Dunia Pendidikan pun Tak Luput
Contoh lain yang sering berseliweran:
Sampul rapot siswa (ya, masih banyak yang menulis rapot)
Spanduk kegiatan bertuliskan praktek ibadah
Caption akun resmi sekolah: Mohon nasehat dan arahannya.
Ironis? Tentu.
Lembaga yang bertugas mendidik justru sering tanpa sadar mengabadikan kesalahan.
Lebih ironis lagi, ketika siswa yang mencoba menulis praktik atau rapor malah dianggap “sok tahu” atau “terlalu kaku”.
Bahasa Lisan Terlalu Berkuasa
Masalah utamanya sederhana:
kita menulis berdasarkan bunyi, bukan kaidah.
– praktik terdengar seperti praktek
– nasihat terdengar seperti nasehat
– saksama terdengar seperti seksama
– rapor terdengar seperti rapot
Akhirnya, bentuk yang salah terasa lebih akrab.
Yang benar justru terasa asing.
Dan ketika kesalahan diulang ribuan kali di WhatsApp, Instagram, banner sekolah, hingga dokumen resmi, ia naik pangkat dari salah menjadi kebiasaan.
Viral Bukan Berarti Benar
Di era digital, apa yang sering muncul di linimasa kerap dianggap benar. Padahal, viral tidak pernah identik dengan valid.
Jika hari ini kita membiarkan praktek merajalela, jangan heran jika besok ijin dan resiko kembali berjaya. Bahasa Indonesia pelan-pelan kehilangan ketertibannya, bukan karena tidak punya aturan, tetapi karena kita malas merujuknya.
Bahasa Baku Itu Bukan Sok Pintar
Mari luruskan satu stigma:
Menulis praktik bukan berarti sok pintar.
Menulis rapor bukan berarti pamer KBBI.
Itu hanya tanda bahwa kita menghargai pembaca dan peduli pada kejelasan bahasa.
Bahasa yang tertib mencerminkan cara berpikir yang tertib.
Dan pendidikan kalau mau jujur, selalu dimulai dari hal kecil, termasuk satu huruf yang benar.
Jadi, Masih Mau Menulis “Praktek”?
Tulisan ini bukan ajakan untuk menghakimi, tapi untuk bercermin.
Kita boleh salah. Tapi terus-menerus memelihara kesalahan adalah pilihan. (mw)