SIP (Sistem Informai Pelayanan) MANTUL

“Ketika Nasi Menuntut Nurani” (Sebuah Autokritik di Meja Prasmanan)
"Ketika Nasi Menuntut Nurani" (Sebuah Autokritik di Meja Prasmanan)
Diterbitkan : Tue, 21 April 2026
Penulis : admin1
43-1-1628767752-5

Hari ini aku menghadiri sebuah pesta. Undangan membludak, gedung sampai terasa sesak. Parkir kendaraan mengular, klakson bersahut-sahutan seperti ikut merayakan kemeriahan. Di dalam, lampu-lampu gemerlap menyambut tamu dengan meja prasmanan yang memanjang bak hamparan kemakmuran.

Bakso mengepul, soto menguar harum, sate berbaris rapi, empal genthong menggoda, mie oriental berkilau, kambing guling tersenyum pasrah di atas meja. Aneka snack, jus warna-warni, dawet, es puter—semuanya tersaji berlimpah. Piring-piring di tangan tamu penuh sesak oleh pilihan. Ada yang makan sambil berdiri, ada yang duduk rapi, ada yang bercengkerama riang. Semua tampak bahagia.

Namun di tengah tawa dan senda gurau itu, hatiku tersentak.


Di sudut meja, kulihat piring-piring yang kembali dengan isi yang tak lagi utuh—nasi tersisa separuh, mie yang hanya disentuh sedikit, sate yang tinggal gigitan pertama, minuman yang masih setengah gelas. Mereka mengambil sesuai selera, tetapi membuang tanpa rasa bersalah. Seolah makanan itu hadir begitu saja dari langit, tanpa proses, tanpa perjuangan.

Di sanalah aku merasa seperti mendengar suara lirih.

Seakan-akan si nasi berbicara,

“Aku tidak lahir dari kemewahan. Aku tumbuh dari lumpur sawah. Dari tangan kasar yang penuh harap.”


Bayanganku melayang ke sawah-sawah yang luas. Kepada para petani—pahlawan sunyi swasembada pangan. Mereka menabur benih dengan doa, membajak sawah dengan tenaga, menanam padi di bawah terik matahari. Mencari orang tandur pun kini tak mudah. Harga pupuk mahal, pupuk subsidi berbelit prosedurnya. Air harus diperebutkan, kadang memicu cekcok. Mereka rela bermalam di tepi sawah menunggu giliran air mengalir.

Padi harus dijaga dari hama, dari keong, dari tikus, dari burung. Ketika menguning, mereka cemas angin besar datang. Ketika panen tiba, bahagia pun belum sempurna. Padi harus dijemur, dibalik-balik di bawah panas menyengat. Dijaga dari hujan yang tiba-tiba mengguyur dan membuat gabah kembali basah. Dipilih satu per satu yang kopong dan yang berisi. Disimpan dalam lumbung dengan waspada terhadap tikus yang lapar.


Lalu ketika hendak dijual, harga sering tak berpihak. Tengkulak menawar rendah, petani hanya bisa pasrah.

Semua perjuangan itu… demi apa?
Demi agar kita bisa makan hari ini.

Dan kini, di pesta itu, nasi yang berasal dari keringat panjang perjuangan itu tersisa di piring, terbuang ke tempat sampah tanpa penyesalan.

Aku bertanya dalam hati—atau mungkin kepada diriku sendiri—
Di mana nurani kita?

Kita yang tinggal menyendok dan menikmati, dengan mudah menyia-nyiakan. Kita yang tak pernah berendam lumpur, tak pernah berebut air irigasi, tak pernah berjaga di malam dingin sawah—justru paling ringan membuang.

Padahal di luar gedung pesta yang gemerlap itu, ada anak-anak yang menahan lapar. Ada keluarga yang sehari hanya makan sekali. Ada orang-orang yang berharap sesuap nasi yang justru kita sisakan.

Bukankah mubazir itu bukan sekadar soal makanan terbuang, tapi juga soal hati yang tumpul?

Bukankah setiap butir nasi adalah saksi kerja keras yang panjang?

Mungkin kita tak perlu pidato panjang tentang empati.
Cukup mulai dari satu hal sederhana:
Ambillah secukupnya. Habiskan yang sudah diambil. Hargai setiap butirnya.

Karena di balik sepiring nasi, ada cerita panjang tentang lumpur, matahari, hujan, doa, dan harapan.

Dan mungkin…
Yang sebenarnya perlu dipanen bukan hanya padi di sawah,
tetapi juga kesadaran di dalam hati kita.

Berita

Artikel Lainnya

Rakor PIP MTsN 4...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:56
MTsN 4 Bantul Gelar...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:53
MTsN 4 Bantul Gelar...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:49
Kepala MTsN 4 Bantul...
Bantul (MTsN 4 Bantul) – Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Bantul melaksanakan rapat koordinasi terkait Program Indonesia Pintar (PIP)...
Mon, 29 June 2026 | 8:45