Sebagai guru MTs, saya sering merenung sepulang mengajar. Di ruang kelas yang sederhana, dengan papan tulis yang mulai kusam dan suara murid-murid yang kadang lebih riuh daripada materi pelajaran, saya melihat wajah masa depan Indonesia. Dan jujur saja, pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja.
Bukan karena anak-anak kita tidak cerdas. Mereka cerdas. Mereka kritis. Mereka penuh rasa ingin tahu. Tetapi sistem di sekeliling mereka belum selalu mendukung tumbuhnya potensi itu secara utuh.
Kurikulum Berganti, Guru Beradaptasi Lagi
Kita menyambut hadirnya Kurikulum Merdeka dengan harapan besar. Katanya pembelajaran akan lebih fleksibel, lebih bermakna, lebih memerdekakan. Sebagai guru, saya tentu ingin itu terjadi. Saya ingin siswa tidak sekadar menghafal, tetapi memahami.
Namun di lapangan, prosesnya tidak sesederhana itu. Modul ajar harus disusun ulang. Administrasi tetap menumpuk. Pelatihan belum semua guru rasakan secara merata. Di sekolah berbasis madrasah seperti MTs, kami juga harus menyesuaikan dengan karakteristik keagamaan yang menjadi ruh lembaga.
Kami mau berubah. Tapi perubahan butuh waktu, pendampingan, dan kejelasan arah.
Anak-Anak dan Dunia Digital yang Tidak Sama Rata
Di kelas saya, ada siswa yang sudah terbiasa membuat presentasi dengan rapi dari rumah karena punya laptop dan internet stabil. Tapi ada juga yang masih meminjam gawai orang tuanya, bahkan harus menunggu ayahnya pulang kerja untuk bisa mengerjakan tugas.
Kesenjangan ini nyata. Ketika pembelajaran menuntut kreativitas berbasis digital, tidak semua anak berada di garis start yang sama.
Kita sering berbicara tentang transformasi digital pendidikan yang digagas oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, tetapi di kelas kecil seperti kami, transformasi itu masih berjalan pelan-pelan, sambil menyesuaikan kondisi nyata masyarakat. (mw)